Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

tkvdw

Siapa nih yang suka baca novel? Saya rasa banyak yang suka baca novel. Apalagi novel-novel populer yang tengah difilmkan, pastinya banyak yang penasaran dan ingin membandingkan antara cerita dalam novel dan cerita di film. Eit, tapi sekarang saya tidak akan membahas perbedaan tersebut ya. Sekadar ingin menyoroti keberadaan novel-novel lama saja sih sebenarnya. Novel-novel lama saya kira sekarang jarang sekali dicari ketimbang novel-novel populer (perasaan penulis saja kali ya.. :D ). Ya, begitulah ironisnya. Jarang yang mau membaca novel-novel lama, apalagi menganalisisnya. Padahal ketika seseorang dikatakan mencintai sastra ia harus tahu apa itu sastra dan bagaimana sejarah sastra hingga sampailah pada novel-novel populer yang sekarang sedang digandrungi (padahal penulis sendiri juga entah, hehe).

Memang novel-novel lama terkadang sulit dimengerti. Masih menggunakan bahasa Melayu yang kita sulit mencernanya, atau terlalu banyak hal-hal yang tersirat yang membuat kita kebingungan dalam memaknainya. Tapi biar bagaimana pun, setidaknya kita pernah membaacanya. Agar kita minimal tahu perkembangan sastra di Indonesia dari lahir hingga sekarang. Meski mungkin ada yang lebih suka novel angkatan 2000’an-sekarang. Tapi disamping kerumitan novel lama, ia juga banyak sekali mengandung pelajaran lho. Buktikan saja!

Nah buat kamu-kamu yang belum pernah baca novel-novelnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), saya ada sedikit gambaran nih. Sekadar analisis unsur pembangun sih, tapi semoga bermanfaat ya..

(Analisis unsur pembangun novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di bawah ini merupakan tugas kelompok saya di salah satu mata kuliah. Bagi yang mau mengutip atau mengcopy, mohon sertakan sumbernya ya.. Terima kasih.)

ANALISIS UNSUR PEMBANGUN

NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VANDEWIJCK

1)      Sinopsis

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Zainudin adalah seorang pemuda dari perkawinan campuran Minangkabau dan Mengkasar. Ayah Zainudin yaitu Pendekar Sutan yang berdarah Minangkabau mengalami masa pembuangan ke Mengkasar. Di Mengkasar Pendekar Sutan menikah dengan Ibu Zainudin yaitu Daeng Habibah yang berdarah asli Mengkasar.

Keinginan Zaenudin untuk dapat menginjakkan kaki di negeri asalnya, Minangkabau sangatlah kuat. Maka berpamitanlah ia pada Mak Base, ibu angkatnya untuk berangkat ke negeri Padang. Di sana bertemulah Zaenuddin dengan Hayati. Gadis asal Batipuh yang sangat dicintainya. Berawal dari sini kisah cinta yang pahit antara Zaenuddin dan Hayati dimulai. Hubungan mereka harus berakhir karena adat. Adat di Minangkabau bangsa diambil dari ibu, sedangkan yang asli keturunan Minangkabau ayahnya bukan ibunya. Sebab itu Zaenuddin dianggap sebagai orang asing yang tidak bersuku. Hal itulah yang menjadi alasan tidak disetujuinya hubungan mereka.

Akhirnya Hayati menikah dengan seorang pemuda bangsawan asli Minangkabau bernama Azis. Seorang pemuda berharta yang bersuku, tidak seperti Zaenuddin yang melarat dan tidak jelas asal-usulnya. Mendengar pernikahan itu Zainudin jatuh sakit. Akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik dan pada akhirnya Zainudin mampu bangkit dari keterpurukannya dan sukses menjadi seorang pengarang yang sangat terkenal dan tinggal di Surabaya.

Di Surabaya inilah Zainudin kembali dipertemukan dengan Hayati dan Aziz, suaminya. Suatu ketika Hayati dan Aziz jatuh miskin akibat kebiasaan buruk aziz yang suka berjudi dan menghambur-hamburkan uang. Mereka menumpang di rumah Zaenuddin yang pada waktu itu Aziz dan Zaenuddin sudah bersahabat dan saling memaafkan, melupakan kejadian di masa lalu. Karena merasa tidak enak menumpang terlalu lama, Aziz pun pergi merantau mencari pekerjaan supaya tidak merepotkan Zaenuddin lagi sementara Hayati tetap dititipkannya di rumah Zaenuddin mengungu kepulanggannya. Tidak lama kemudian dikabarkan Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih membara. Akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, cinta yang masih menyala itu berusaha untuk dipadamkan, walaupun Aziz telah tiada dan dalam keterangan suratnya sebelum meninggal menyatakan telah merelakan Hayati untuknya. Dendam masa lalunyalah yang membutakannya. Ia terlanjur sakit dan terlampau kecewa dengan Hayati. Maka kemudian dibiayainya Hayati untuk pulang ke Batipuh meski ia menolak dan bersikukuh ingin tinggal bersama Zaenuddin. Akan tetapi, nasib malang menimpa Hayati dalam perjalanan pulang ke Batipuh. Kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya tenggelam. Hayati meninggal dunia di rumah sakit di Cirebon.

Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainudin menyusul Hayati ke alam baka, dan jenazah Zainudin dimakamkan persis di samping makan mantan kekasihnya, Hayati.

2)      Fakta Cerita

1.      Alur

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Ketika sedang menceritakan tokoh atau pada tahap pengenalan, pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu mengenai ayah Zaenudin. Setelah kenangan itu habis, pembaca kembali dibawa ke pengenalan semula, dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut,

“… Untuk mengetahui siapa dia, kita harus kembali kepada suatu kejadian di suatu negeri kecil dalam wilayah Batipuh Sapuluh Koto (Padang Panjang) kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. (2008:5)”

Tahap-Tahap Alur

a. Pengenalan

Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. Pada novel ini tahap pengenalan yaitu ketika penulis menceritakan tokoh Zaenudin dan asal usulnya.

Berikut ini merupakan kutipan tahap pengenalan dalam novel Tenggelamnya Kapal Vanderwijck:

“Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut. Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan dunia pindah ke lautan khayal (2008:4).

b. Konfik

Tahap ini merupakan tahap pemunculan masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang kemudian menjadi sebab terjadinya konflik. Konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.

Tahap konflik dalam novel ini bermula ketika Zaenudin bertemu dengan Hayati. Tahap konflik semakin naik ketika hubungan mereka telah diketahui oleh masyarakat padang.

Berikut adalah kutipan mulai terjadinya konflik:

“Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Di dusen belumlah orang dapat memendang kejadian ini dengan penyelidikan yang seksama dan adil. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati, kemenakan Dt……..telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang duduk di pelatar lepau petang hari. Hingga akhirnya telah menjadi rahasia umum.” (2008:54)

c. Klimaks

Tahap klimaks yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. Tahap ini terjadi ketika Zaenudin berperang dengan sisi egonya. Yaitu ketika Hayati meminta maaf padanya, mengakui kesalahannya, namun hati Zaenudin masih kacau, ia masih merasakan sakit yang mendalam akibat penghianatan Hayati.

Kutipan tahap klimaks:

…“Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !…..Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. (2008:199)

d. Tahap akhir (peleraian dan penyelesaian)

Adapun tahap akhir menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks.

Tahapan ini terjadi ketika Zaenudin membaca surat Hayati yang dititipkan kepada Muluk sebelum Hayati pulang ke Minangkabau. Berikut kutipan tahap ini, yaitu setelah Zaenuddin membaca surat Hayati:

“… Saya akan berangkat ke Jakarta dengan kereta api malam nanti, pukul 9 besok pagi sampai di Tanjung Priok. Biasanya kapal dari Surabaya merepat di Pelabuhan Tanjung Priok pukul 7 pagi. Hayati akan saya jemput kembali, akan saya bawa pulang kembali” (2008:211)

Adapun tahap penyelesaiannya adalah ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit Tuban. Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit dan meninggal dunia. Zainuddin dimakamkan di sebelah makam Hayati.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh utama/karakter utama

1)      Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang.

Hal itu dapat diketahui dari penceritaan secara langsung oleh pengarang.

“…Anak muda itu baik budi pekertinya, rendah hati, terpuji dalam pergaulan, disayangi orang. Sungguh belajar, karena dia berguru kepada seorang lebai yang ternama…” (2008:26)

2)      Hayati, yang memiliki karakter baik. Sifatnya lembut, empatinya tinggi terhadap orang lain. Ini bisa dilihat dari sikapnya kepada Zaenudin yang sangat prihatin dengan kemalangan Zaenudin. Kutipan berikut merupakan bukti karakter Hayati yang diungkapkan melalui tanggapan tokoh lain.

“…, Hayati tak akan mau berbuat demikian, sebab hatinya sangat baik.” (2008:42)

Tokoh pendukung

1)      Aziz, yang mempunyai sikap kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan. Kutipan berikut merupakan bukti karakter Aziz yang buruk melalui penjelasan langsung oleh pengarang.

“Si Aziz anak Sutan Matari, … Tetapi perangainya MasyaAllah! Penjudi, pengganggu rumah tangga orang, sudah dua tiga kali terancam jiwanya karena mengganggu anak bini orang….”(2008:124)

Tokoh Pelengkap

1)      Muluk

2)      Mak Base

3)      Khadijah

4)      Pendekar Sutan

5)      Habibah

6)      Datuk Mantari Labih

3. Setting

a)   Setting Waktu

Cerita ini ditulis pada saat Indonesia belum merdeka. Terlihat sebuah tekanan suasana, sebab kemerdekaan masih dalam cita-cita dan penjajahan masih menekan dalam segala lapangan hidup.

b)   Setting Tempat

1)      Mengkasar

“…, kota Mengkasar kelihatan hidup.” (2008:3)

2)      Tepi pantai, Mengkasar

“Di tepi pantai, diatara kampung Baru dan Kampung Mariso berdiri sebuah rumah berbentuk Mengkasar” (2008:4)

3)      Padang Panjang

” Bilamana Zainuddin sampai ke Padang Panjang , negeri yang ditujunya, telah di teruskannya ke dusun Batipuh karena menurut keterangan orang setempat, di sanalah negeri ayahnya yang asli.” (2008:21)

4)      Surabaya

“ Diberanda sebuah rumah makan yang ramai dalam kota Surabaya, sehabis waktu magrib duduklah Zainuddin seorang dirinya.” (2008:174)”

c)   Setting Suasana

1)      Menyedihkan, saat Mak Base menceritakan tentangg kedua orang tua Zaenudin yang telah meninggal. “Air mata Zaenudin menggelanggang mendengar hikayat itu,.. (2008:11)”

2)      Menyenangkan, saat pertama Zaenudin bercakap-cakap dengan Hayati. “…alangkah beruntungnya… mukanya amat jernih, matanya penuh dengan rahasia kesucian dan tabiatnya gembira,… “(2008:27-28)

3)      Mengharukan, saat Zaenudin mendengar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, dan pada saat Hayati akan meninggal dunia. “seluruh badan Zaenudin gemetaran,…” (2008:213) “cahaya kematian telah terbayang di mukaku! Jika kumati… hatiku telah senang, sebab telah kuketahui bahwa engkau masih cinta padaku.” (2008:216)

3. Sarana Cerita

1. Judul

Judul novel yang kami analisis adalah Tenggelamnya Kapal Vanderwijck karya Hamka. Judul itu telah mewakili cerita dalam cerpen ini. Kapal Vanderwicjk adalah kapal yang ditumpangi Hayati, kapal itu tenggelam ketika tengah dinaiki oleh Hayati. Tenggelamnya kapal tersebut mengartikan cinta Zaenudin dan Hayati yang kandas seperti kapal yang tenggelam.

2. Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu, karena pengarang mampu menuliskan sampai ke pikiran maupun isi hati tokoh. Berikut kutipannya.

“Dalam hatinya terbit perjuangan, pertama cinta yang kekal kepada Hayati, kedua perasaan dendam yang sukar mengikis, lantaran mungkir Hayati kepada janjinya.”(2008:177)

“…Maka tergambarlah dalam pikirannya nasihat-nasihat Khadijah, nampak pula sekarang kokohnya benteng adat yang memagari dirinya…” (2008:112)

3. Gaya Bahasa

Penulisan novel Tenggelamnya Kapal Vanderwijck menggunakan bahasa Indonesia yang masih disisipi dengan bahasa Minangkabau dalam hal kata sapaan. Berikut kutipannya.

“Bagaimana Sutan Mudo? Tanya Datuk… kepada mamak yang membantah Datuk Garang tadi.”(2008:111)

Selain itu, dilihat dari latar belakang pengarang yang seorang religius, maka dalam novel tersebut dakwah keislaman beritu terasa disetiap rangkaian ceritanya. Berikut kutipannya.

“…Lepaskan saya berangkat ke Padang. Kabarnya konon, di sana hari ini telah ada sekolah agama. Pelajaran akhirat telah diatur dengan sebagus-bagusnya…”(2008:17)

4. Tema Cerita

Tema dalam novel Tenggelamnya Kapal Vanderwijck ini adalah cinta yang kandas karena terhalangi oleh adat. Berikut kutipannya.

“Dia mencintai Zaenuddin, tetapi percintaan itu tidak ada jalannya……… Maka tergambarlah dalam pikirannya nasihat-nasihat Khadijah, nampak pula sekarang kokohnya benteng adat yang memagari dirinya…” (2008:112)

5. Amanat

    1. Kesetiaan, kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa mendapat ujian
    2. Rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain
    3. Segala rintangan yang ada harus dijadikan cambuk untuk terus maju
    4. Tiada kesuksesan tanpa perjuangan
    5. Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan
    6. Cinta tidak harus memiliki
    7. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s